nih ada cerita dari suatu sumber, iseng-iseng yah udah apri upload aja di blog..
selamat membaca yah
Setahun yg lalu, aku sering ‘ngebinding’ buku di salah satu percetakan kecil di sebuah gang dekat kantor saya di Jakarta. Seorang cewek manis dengan pelayanan yg tdk ramah tp baik hati melayaniku. Dialah yg punya percetakan ini. Kupandang sekeliling ruang. Kosong tanpa foto keluarga. Hanya ada satu foto perkawinan terpampang di dinding. Foto perkawinan di dasar laut. Ternyata suaminya seorang penyelam, katanya. Tapi sebuah misterius terselip dalam pikiran. Kok nggak pernah liat suaminya? Apa lagi tugas ke luar negeri? Kucoba untuk bertanya. Dia ke luar kota, katanya. Oh begitu? Oke.
Cerita sudah lenyap setahun. Aku sudah tidak pernah lagi buat ‘binding’ buku. Sampai suatu ketika, aku mau cetak brosur (side job-ku). Aku hubungi percetakan itu, kucari si taci-nya(cewek sebelumnya). Tapi tiba-tiba yang terdengar dari balik telpon seorang lelaki. Dia bilang suaminya taci itu. Ok, to the point, aku nggak mau ngomong banyak, aku bilang aku mau cetak. Tolong dihitungin biaya pembuatannya kalau selesai dlm sehari. Ok deal. Job aku kasihkan dan aku ngasihnya pas pulang kantor. Dan dia tahu rumahku cukup jauh, dia akhirnya membelikan aku kue 1 box, buat perjalanan pulang. Ah dia seorang Bapak yang cukup perhatian, pikirku. Selesai cetak, sudah tidak ada cerita lagi.
Sampai hampir setahun setelah itu, aku mau cetak lagi tapi cuma kartu nama. Aku telpon si Bapak ini, dia lupa namaku. Aku Cuma bilang, “Saya Turi yg pernah kasih job brosur ke Bapak,terus Bapak beliin saya kue.”
“Oh… yang itu. Saya ingat,” katanya.
Job kartu nama yang untung cuma puluhan ribu, dia ngasih aku lagi kue 2 toples exclusive.
Langsung aja aku bilang, “Apa ini Pak? Bapak nggak perlu kasih2 ginian. Saya tahu untungnya tidak banyak dengan job yang saya berikan. Kue sama jobnya, masih mahalan kuenya Pak!”, saya ngotot.
Dia cuman tersenyum dan bilang, “Turi, sekecil apapun nilai job itu, saya nggak akan pernah nolak. Itu karena sudah rejeki saya. Dan memang keuntungan cetak itu tidak banyak dan kecil. Kalau memang saya mau tutup itu percetakan, sudah dari dulu2 saya lakukan.” “Tapi”,kata dia melanjutkan, “Awal bisnis saya adalah percetakan, kalau itu saya tutup hancurlah semua bisnis saya yg lain.”
“Lho.. kok bisa? Apa hubungannya?” tanyaku sambil keheranan.
“Iya begitulah kepercayaan orang China. Bisnis awalnya (sekecil apapun) nggak boleh ditutup meskipun dia sudah mendapatkan bisnis lain yg lebih besar,” jelas dia.
Oh.. iya. Dan aku masih nggak ngerti dengan…kebenaran dan kepercayaan itu.
Cerita sudah berlalu…Dan hampir setahun berlalu….lagi. Aku mau cetak brosur Era. Dia sempet agak kaget. Soalnya dia masih ingat saya, dan sudah setahun tidak berhubungan. Saya tanya harga cetak brosur. Dia nggak bisa jawab.
“Harga terserah Turi dan Turi punya duitnya berapa?”
“Lha kalo saya ngak punya duit, apa berarti saya nggak boleh bayar ?” tanyaku.
“Bukannya nggak boleh bayar, tp nggak usah bayar,”jelasnya.
Aneh, saya pikir. Saya bilang, kalo Bapak mau bisnis, Bapak nggak boleh dong kata2 ‘harga terserah’. Teman ya teman, bisnis ya bisnis. Bapak harus bisa pisahin antara TEMAN dan BISNIS. Akhirnya tetap saya bayar bahkan saya lebihkan.
Tp dia bilang, “Saya sudah tua, Turi… Dlm hidup saya, buat apa sih…. KEUNTUNGAN, HARTA dan DUIT. Hidup tinggal hitung jari…..Umur saya tuh tinggal beberapa tahun lagi. ”
Ah, tinggal beberapa tahun lagi ?, tanyaku dalam hati…. Pesimis amat sih. Ah… Saya perhatikan sekali lagi raut wajahnya. Tidak terlalu tua. Kenapa musti pesimis dan menghitung hari kematian? ah…. Saya benar-benar tidak habis pikir. Omong punya omong ternyata, tidak sengaja dia cerita masa lalunya yang bikin dia pahit…
Si Bapak ini 2 tahun yang lalu, selain punya usaha percetakan yang dikelola istrinya, dia kerja di kilang minyak. Dia juga punya kapal beberapa buah. Selain itu dia juga mengajar menyelam. Karena hari2nya
cukup sibuk, dan kerjanya di kilang, dia tidak bisa pulang tiap hari. Sebulan paling 2-3 kali saja, ketemu istri dan anaknya yg masih berumur 1,5 tahun. Sudah lama sekali dia denger, bahwa istrinya berselingkuh dengan salah satu staffnya.
Tapi dia tidak percaya. Dia terlalu sayang sama istrinya. Dan itu dia anggap fitnah. Suatu saat dia pas kebetulan pulang mendadak. Ketika sampai di kamar,… dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, si istri
bercengkerama bersama lelaki (staffnya). Akhirnya Bapak ini benar-benar marah. Dan si istri memutar balik fakta dan menuntut di pengadilan. Karena Bapak ini dapat panggilan ke kepolisian dan dimintai keterangan, dia melapor apa adanya. Dia malah disiksa dan dipukul telak di kepalanya sama pihak kepolisian, hingga
pendarahan diotak. Dia terkapar dan tak berdaya. Akhirnya masuk rumah sakit.
(Dengar2 si polisi sudah disuap 15 juta oleh si istri, sehingga bisa mengaburkan kebenaran). Setelah beberapa lama di RS, dia kembali ke rumah. Namun rumah dalam keadaan kosong melompong. Tanpa barang tersisa dan seluruh staffnya juga menghilang.
Apa yg terjadi?
Ternyata istrinya sudah kembali ke kampung halaman di Kalimantan, bersama beberapa staffnya. Staff yang lainnya yang tidak bisa join dikeluarkan semua. Mesin2 cetak semuanya dijual. Dan seluruh uang di bank (ada beberapa miliar) semuanya raib. Semua data pelanggan musnah. Dengar2 sang istri mendirikan percetakan di Kalimantan.
Suatu ketika dia kangen sama anaknya. Dia cari-cari info dimana anaknya sekolah. Akhirnya dapat bertemu anaknya di sekolah. Guru2nya bilang, ayahnya sudah meninggal. Dia terpekur, istri hilang, harta raib, dan
anak menganggapnya meninggal.
Perlahan air mata saya tergulir satu persatu.
“Turi,… Dalam hidup ini cuma satu yang saya cari, TEMAN.. TEMAN dan TEMAN sebanyak mungkin. Teman bisa menjadi saudara, tapi belum tentu sebaliknya.” katanya sambil membukakan pintu tokonya untuk saya.
sumber : milis tetangga ^_^